BERITA  

Bantuan HP Android Kepada Siswa Tergantung Ketersediaan Anggaran

Betun,jurnal-NTT.com -Terkait kebijakan untuk memberikan bantuan berupa HP Android pada anak-anak kita lihat kembali dari ketersediaan dana jika memungkinkan kita eksekusi”, ungkap Plt Kadis Pendidikan Dan Kebudayaan Yohanes Klau yang didampingi oleh PLT Kabid Digdas dan koordinator pengawas SD SMP melakukan kunjungan ke 6 sekolah di Kabupaten Malaka yakni; SDN Harekakae, SMAN Harekakae, SDK betun 1, SDK betun 2, SMPK sabar subur, dan SMK swasta wilibrodus, Rabu (4/8/2021).

Nah di Dinas Pendidikan ini untuk sementara tahun 2021 inikan belum terprogram betul. Tetapi kita coba nanti bawa ke rapat anggaran kemudian kita sampaikan apabila disetujui maka kita eksekusi.

Juga terkait alat TIK yang lain yang ada di Sekolah yang mana dimanfaatkan jika ada ketersediaan internet yang memadai. Kita di Malaka sini masih kurang ketersediaan kuota internet di kecamatan. Maka kita akan mekarkan
sehingga ibarat jalan inikan sempit tapi yang mau pakai itukan banyak kendaraan sehingga terjadi yang namanya macet kalau jam beginikan full (11:30 Wita). Begitu juga dengan kuota internet dan sangat tidak mungkin kita buat pelajaran di malam hari.

Terkait hal ini, kata Yohanes, kita tetap berpikir hal-hal seperti ke depannya karena kita tidak tahu kapan Pandemi ini akan berakhir. Ini wabah yang sudah merajalela dari waktu ke waktu. Bahkan muncul dengan varian baru lagi, maka baik penambahan kuota atau bantuan Hp Android menjadi PR yang mesti dituntaskan.

Soal sidak ia ke-6 Sekolah, Yohanes Klau menjelaskan bahwa kunjungan itu dilakukan guna melihat langsung pelaksanaan kegiatan KBM secara daring sesuai zonasi lalu mengecek Lembar Kegiatan Siswa (LKS) dibagikan pada jumlah anak-anak yang terbatas dan terutama ingin membuktikan bahwa guru tidak libur.

“Saya mengecek langsung apa betul guru-guru serta tenaga pendidikan masuk sekolah sesuai jadwal dan juga kepala sekolahnya ada di sekolah atau tidak. Ini dilakukan agar anak-anak tetap mengikuti kegiatan belajar mengajar ditengah pandemi covid-19”, Ungkap Yohanes.

Terkait hal tersebut, sambung Yohanes Klau, saya sudah memberi instruksi bahwa setiap hari kerja sesuai kalender pendidikan, kepala sekolah, guru dengan tenaga kependidikan harus hadir di sekolah dan menandatangani daftar hadir sesuai jadwal dengan materi daftar hadir guru dengan peserta didik. Agar bisa mengetahui jumlah yang terlibat di dalam sehingga terukur.

“Para siswa-siswi sebenarnya sudah tahu, saya sendiri yang menyampaikan itu. Ini mungkin bagian daripada zonasi karena ada sekolah itu dijadikan zonasi bagi mereka yang memiliki HP Android atau jalur untuk daring itu. Sehingga sekolah dijadikan zonasi”, ungkap Yohanes Klau

Soal Kehadiran anak-anak, dirinya menyebutkan bahwa ada beberapa jumlah anak yang datang itu sebenarnya mereka turut mengambil bagian daripada skema yang dibuat yakni tidak ada tatap muka namun berhubungan dengan secara normatif mereka harus menjalankan itu sesuai dengan skema zonasi.

Memang rata-rata kita di Malaka ini daring memang susah karena jaringan.

“Sekali lagi saya tegaskan untuk KBM secara tatap muka sebenarnya sudah tidak ada lagi, akan tetapi karena mereka sudah ada pada posisi zonasi, maka terlihat dari jauhkan, seperti masih ada KBM padahal sekolahnya sepi-sepi saja”, ujar Yohanes.

Skenarionya itu, lanjutnya, mereka menggunakan sekolah itu untuk beberapa zonasi. Lagi pula gedungnya, ruangannya bahkan tempat duduknya bisa digunakan untuk tempat mereka berkumpul. Tapi untuk KBM secara normatif sudah tidak ada lagi.

“Jadi ketika ada anak-anak kita yang pergi ke sekolah itu artinya mereka sedang menerapkan zonasi skema yang sudah dibuat. Dan oleh karena kita punya banyak sekolah dan kalau zonasinya setiap sekolah 5 peserta didik, maka bisa saja kita melihat dijalan ada banyak anak. Ini yang harus kita pahami bersama”, pinta Yohanes.