BERITA  

Dana BUMDes Desa Nanebot Diduga Dibagi-bagi Untuk Kepala Desa dan Keluarga Dekatnya

Betun, jurnalNTT.com – Masyarakat Desa Nanebot, Kecamatan Rinhat, Kabupaten Malaka meminta Bupati dan wakil Bupati Malaka untuk memerintahkan Inspektorat Daerah (Irda) mengaudit penggunaan dana BUMDes Desa Nanebot. Pasalnya dana BUMDes tahun anggaran 2019 dan 2020 senilai Rp 55.000.000 diduga dibagi-bagi untuk kepala desa dan keluarga dekatnya.

Sumber kuat media ini yang enggan disebutkan namanya, di Desa Nanebot, Selasa (18/5/2021), mengatakan, dana BUMDes tahun 2019 sebesar Rp 35.000.000 dan tahun 2020 sebesar Rp 20.000.000 diduga hanya dibagi untuk kepala desa dan keluarga dekatnya.

Sumber tersebut menyebutkan, Kepala Desa Nanebot, Metriana Hoar Seran diduga mendapat Rp 5.000.000, GN (mertua Kades Nanebot) mendapat Rp 3.000.000, FB (adik ipar) kepala desa yang menjabat sebagai bendahara BUMDes mendapat Rp 3.000.000, NS (kakak ipar) kepala desa mendapat Rp 3.000.000 dan ibu mertua kepala desa mendapat Rp 5.000.000 dan salah satu adik ipar kepala desa mendapat Rp 2.000.000. Sementara sisanya dibagi-bagi untuk beberapa oknum perangkat pemerintah desa lainnya.

Baca Juga  Berhentikan Ribuan Tenaga Kontrak, Bupati Malaka: Daripada Kasih Makan Babi

Selain dana BUMDes yang dibagi-bagi untuk kerabat dekatnya, masih menurut sumber itu, Metriana dan suaminya, Frederikus Manek juga diduga mengelola usaha penyewaan tenda dan kursi milik BUMDes yang dibeli menggunakan dana BUMDes tanpa sepengetahuan manejer BUMDes Desa Nanebot.

Sumber tersebut meminta Bupati dan Wakil Bupati Malaka agar mengaudit pengelolaan keuangan Dana Desa, termasuk pengelolaan dana BUMDes Desa Nanebot.

Manejer BUMDes, Desa Nanebot, Dominikus Nahak, yang ditemui media ini di Desa Nanebot, Selasa (18/5/2021), mengakui pernyataan sumber kuat di Desa Nanebot tersebut.

Menurutnya, dana BUMDes tahun 2019 dan 2020 tersebut hanya dibagi untuk Kepala Desa Nanebot dan kerabat dekatnya.

Baca Juga  Oknum Perangkat Desa Tuapanaf Diduga Dikeroyok Dihadapan Anaknya

Ia merincikan, Metriana Hoar Seran mendapat Rp 5.000.000, GN (mertua kepala desa) mendapat Rp 3.000.000, FB (adik ipar) kepala desa yang menjabat sebagai bendahara BUMDes mendapat Rp 3.000.000, NS (kakak ipar) kepala desa mendapat Rp 3.000.000 dan dua orang kerabat kepala desa lainnya YT mendapat Rp 5.000.000 dan DB mendaoat Rp 2.000.000. Sementara sisanya dibagi-bagi untuk beberapa oknum perangkat pemerintah desa lainnya.

Dominikus juga mengaku tidak tahu tentang usaha sewa tenda dan kursi BUMDes yang selama ini dijalankan oleh Metriana dan sang suami.

“Saya dengar katanya tenda dan kursi BUMDes ada. Tapi tenda dan kursi saya tidak tahu menahu karena bukan saya yang kelola. Saya memang manejer BUMDes tapi tidak tahu apakah dana untuk pembelian tenda dan kursi itu diambil dari dana BUMDes atau tidak”, jelasnya.

Baca Juga  DPRD Kabupaten Kupang Setujui Anggaran Rp 23 Miliar Untuk Penanganan Covid-19

Ia juga mengaku tidak mengetahui pengelolaan dana BUMDes untuk usaha tenda dan kursi tersebut karena dikelola langsung oleh kepala desa dan suaminya.

Sementara itu, Kepala Desa Nanebot, Metriana Hoar Seran belum berhasil dikonfirmasi.(epy)