Dana BUMDes Desa Nanebot Diduga Hanya Dinikmati Kepala Desa dan Keluarga


Warning: Attempt to read property "post_excerpt" on null in /home/jurnalnt/public_html/wp-content/themes/wpberita/template-parts/content-single.php on line 98

 
Betun, JurnalNTT1.Com – Dana Simpan Pinjam dari Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Nanebot, Kecamatan Rinhat, Kabupaten Malaka, diduga hanya dinikmati kepala desa dan keluarganya. Pasalnya, dana Simpan Pinjam itu diduga dibagi-bagi kepada kepala desa dan beberapa oknum keluarga dekatnya.
Sumber kuat media ini di Desa Nanebot, belum lama ini menyebutkan, dana Simpan Pinjam tersebut dianggarkan dari Dana Desa Tahun Anggaran 2018 dan 2019. Tahun 2018, Pemerintah Desa Nanebot menganggarkan dana sebesar Rp 35 juta dan tahun 2019 dianggarkan Rp 20 juta.
Namun dana Simpan Pinjam itu hanya dipinjamkan kepada kepala desa dan keluarga dekatnya.
Sumber itu merincikan, dari dana BUMDes senilai Rp 35 juta itu, Kepala Desa Metriana diduga mendapat jatah Rp 5 juta. Sementara mertua Kepala Desa Metriana berinisial GN, diduga mendapat Rp 2 juta, ipar kepala desa yang juga menjabat sebagai Bendahara BUMDes berinisial (FB) diduga mendapat Rp 3 juta, kakak ipar kepala desa berinisial NS diduga mendapat Rp 2 juta. Sementara sisa dana tahap pertama dibagi-bagi untuk keluarga dekat lain dan beberapa oknum perangkat desa lainnya.
Selain itu menurut sumber, dana Simpan Pinjam tahun anggaran 2019 senilai Rp 20 juta juga hanya dibagi-bagi untuk keluarga kepala desa dan perangkat pemerintah desa.
“Kami bingung. Apakah dana BUMDes ini hanya diperuntukan bagi kepala desa dan keluarga kepala desa? Ataukah untuk semua masyarakat Desa Nanebot”? tanya sumber.
Sumber melanjutkan, seharunya dana Simpan Pinjam itu diprioritaskan bagi masyarakat kecil yang memiliki usaha untuk menambah modal usaha.
Dana Simpan Pinjam itu juga lanjut sumber, harus disetor kembali secara cicilan disertai bunga setiap bulan. Agar dana Simpan Pimjam itu bisa digulirkan untuk masyarakat lainnya. Namun fakta yang terjadi, dana BUMDes yang dibagi-bagi dengan cara simpan pinjam tersebut, sampai hari ini belum dikembalikan.
“Buktinya kami mau pinjam dana BUMDes untuk tambah modal usaha tapi bendahara bilang uang tidak ada lagi. Seharusnya kalau memang dana BUMDes itu untuk simpan pimjam maka masyarakat kecil yang punya usaha yang harus jadi prioritas untuk diberi pinjaman. Bukan namanya dana BUMDes tapi yang menikmati hanya kepala desa dan keluarganya”, kesal sumber.
Sementara itu, Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Simpan Pinjam dana BUMDes, Maksimus Nahak, yang dikonfirmasi media ini, mengaku tidak tahu menahu soal dana BUMDes. Sebab setelah ditunjuk menjadi Ketua Pokja Simpan Pinjam pada tahun 2018, dirinya langsung mengundurkan diri.
“Saya tidak tahu apa-apa soal dana BUMDes. Karena setelah tunjuk saya jadi ketua (Simpan Pinjam), saya langsung mengundurkan diri. Jadi kalau soal pengelolaan dana BUMDes saya tidak tahu apa-apa”, ujarnya singkat.
Sementara itu, kepada media ini di Desa Nanebot, Manajer BUMDes Desa Nanebot, Dominikus Nahak, mengakui pernyataan sumber tersebut.
Menurutnya, dana BUMDes Desa Nanebot dianggarkan dalam dua tahun anggaran. Tahun anggaran 2018 dianggarkan sebesar Rp 35 juta dan tahun 2019 dianggarkan Rp 20 juta. Dana BUMDes itu dianggarkan untuk program Simpan Pinjam.
Ia juga mengakui jika kepala desa dan keluarga dekatnya mendapat dana Simpan Pinjam tersebut.
Domi merincikan, dari dana Simpan Pinjam Rp 35 juta di tahun 2018 tersebut, Kepala Desa Nanebot mendapat Rp 5 juta. Sementara mertua kepala desa berinisial GN mendapat Rp 2 juta, adik ipar kepala desa yang juga menjabat sebagai Bendahara BUMDes berinisial FB, mendapat Rp 3 juta, kakak ipar Kepala Desa Metriana berinisial NB, mendapat Rp 2 juta. Sementara sisa dana Simpan Pinjam sebesar Rp 23 juta dipinjamkan kepada perangkat pemerintah desa dan kerabat kepala desa lainnya.
Domi juga mengaku, keluarga dekat kepala desa juga mendapat dana Simpan Pinjam tahun 2019. Namun ia mengaku lupa rinciannya.
Ia juga mengaku tidak mengetahui apakah dana Simpan Pinjam yang didapat kepala desa dan keluarganya itu sudah dikembalikan atau belum.
“Nanti tanya di bendahara saja. Saya kurang tahu apakah sudah dikebalikan atau belum”, ujarnya.

Kepala Desa Nanebot, Metriana Hoar Seran
Sementara itu, Kepala Desa Nanebot, Metriana Hoar Seran dan Bendahara BUMDes, Desa Nanebot, Femi Bui ( adik ipar kepala desa) belum berhasil dikonfirmasi media ini. (epy)