Kadis Pertanian Kabupaten Kupang Panen Perdana Jagung Nusa 01

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Panhan Kabupaten Kupang, Amin Juariah STP.MM (kiri/berkaca mata) sedang memanen jagung Nusa 01 di Kolidoki, Desa Manusak, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang. Foto: istimewa.

Oelamasi,jurnal-NTT.com – Bertepatan dengan Hari Pangan Sedunia, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kupang, Amin Juariah, STP, MM, melakukan panen perdana Jagung Nusa 01 hasil budi daya kelompok tani Maju Bersama di Kolidoki, Desa Manusak, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Provinsi NTT.

Budidaya jagung Nusa 01 ini merupakan hasil kerjasama Universitas Brawijaya (UB), Universitas Nusa Cendana (Undana) dan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT serta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kupang melalui program Matching Fund 2023.

Kepada media ini, Senin (16/10/2023), Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kupang, Amin Juariah STP.MM mengatakan, hasil panen jagung Nusa 01 sangat memuaskan petani. Pasalnya, jagung Nusa 01 memiliki tongkol yang besar dan biji yang padat.

Selain itu, batang dan daun jagung Nusa 01 juga masih hijau saat panen sehingga bisa dimanfaatkan petani untuk pakan ternak sapi.

Ia menjelaskan, areal budi daya jagung Nusa 01 yang dipanen tersebut sebanyak 3 hektar. Hasil panen diperkirakan mencapai 7-8 ton per hektar. Sementara umur panen jagung Nusa 01 mencapai 102 Hari Setelah Tanam (HST).

Ia berharap bibit jagung Nusa 01 ini bisa dikembangkan di Kabupaten Kupang. Namun ia mengaku belum tahu apakah bibit jagung Nusa 01 ini telah dikomersialkan ataukah belum.

Diberitakan sebelumnya, dukung program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS), Universitas Brawijaya dan Undana latih petani olah pakan ternak dan mengembangkan jagung hibrida Nusa 01.

Kegiatan tersebut dikemas dalam program Matching Fund 2023 yang merupakan upaya akselerasi dan perluasan hilirisasi teknologi. Berbagai teknologi yang dihilirisasi oleh tim MF UB-UNDANA termasuk Teknologi Penangkaran Benih Jagung Unggul Hibrida UB (TPB), Teknologi Budidaya Jagung Efisien Ramah Lingkungan dan Pascapanen (TBP), Teknologi Pupuk Organik (TPO), Teknologi Pakan Ternak (TPT), dan Teknologi Digitalisasi Ekosistem (TDE) pada program TJPS.

Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk mencapai kemandirian benih jagung dan efisiensi saprodi khususnya pupuk, serta teknologi informasi yang mendukung akselerasi program TJPS-PK. Pulau Timor dipilih sebagai sentra benih jagung unggul yang akan berkontribusi pada kemandirian pangan dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di seluruh wilayah NTT.

Kolaborasi antara UB, UNDANA, Pemprov NTT, dan Pemda Kabupaten Kupang bertujuan untuk penguatan ekosistem hulu-hilir program TJPS melalui hilirisasi teknologi produksi benih jagung hibrida UB, pupuk organik, pakan ternak, dan digitalisasi sistem informasi agar target TJPS dapat tercapai tepat waktu.

Respon peserta, termasuk Pemprov NTT dan Pemda Kabupaten Kupang, sangat positif terhadap upaya hilirisasi teknologi Produksi Benih Jagung Hibrida UB, Teknologi Pascapanen, dan Digitalisasi Ekosistem TJPS-PK oleh tim Matching Fund dan Mahasiswa Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dari Universitas Brawijaya dan Universitas Nusa Cendana.

Wakil Rektor V Universitas Brawijaya ((UB) Bidang Riset dan Inovasi Prof. Dr. Unti Ludigdo, SE., M.Si, Ak dalam kegiatan evaluasi dan monitoring program Matching Fund 2023 di Kabupaten Kupang mengatakan, kedatangannya ke pulau Timor untuk melakukan monitoring dan evaluasi program kemitraan MF 2023 yang didanai Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Republik Indonesia.

Dijelaskannya, program MF merupakan wujud komitmen UB untuk berperan serta dalam meningkatkan kualitas kehidupan dan kesejahteraan masyarakat di wilayah Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3T) di seluruh Indonesia. Program MF adalah program kemitraan antara UB-Undana dengan Pemerintah Provinsi NTT dan pemerintah kabupaten terkait.

Prof Unti Ludigdo mengatakan, dalam konteks pengembangan ketahanan pangan perlu dilakukan penguatan untuk menghasilkan produk sendiri.

Menurutnya, penangkaran benih dan pembudidayaan adalah salah satu kegiatan untuk mewujudkan kemandirian penyediaan bibit jagung dan secara masif dilakukan penanaman. Sebab saat ini 100 persen pengadaan bibit jagung unggul di NTT masih didatangkan dari luar daerah.

Ke depan menurutnya, pemerintah dan petani di Provinsi NTT harus mandiri dalam penyediaan bibit jagung. Sebab Provinsi NTT memiliki potensi sumber daya alam, ahli dan kondisi alam yang mendukung untuk kemandirian penyediaan bibit jagung.

Sementara itu, penemu benih jagung Nusa 01 yang juga adalah Pakar Pertanian UB, Prof. Ir. Arifin Noor Sugiarto, MSc., PhD, mengatakan, sebagai dosen dan sebagai peneliti memiliki tugas yakni pengajaran dan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat.

Ia mengatakan, jagung Nusa 01 adalah hasil penelitian peneliti yang tergabung dalam tim Pusat Penelitian Jagung UB sejak tahun 2008.

Nusa 01 tersebut menurutnya adalah salah satu jenis jagung yang telah dipatenkan dan dilepas. Jagung Nusa 01 merupakan jagung batang varietas unggul hibrida.

Keunggulan dari jagung Nusa 01 ini lanjutnya, selain produktivitas tinggi, ada juga kekuatan-kekuatan khusus misalnya sudah diuji tahan hama oleh Kementerian Pertanian sehingga disahkan namanya di tahun 2020.

Prof Arifin menjelaskan, di tahun 2020, tim Pusat Penelitian Jagung mengajukan lima calon varietas yang disetujui dan lolos. Salah satunya adalah Nusa 01 yang dikembangkan sesuai kehendak mitra UB di NTT. (epy)