Menjelajahi Keindahan Tersembunyi: Geowisata Timor Tengah Utara dari Leluhur ke Bumi

Mario Usboko

KEFAMENANU, JURNAL NTT – Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) menggelar kegiatan peluncuran dan diskusi buku “Eksotika Geowisata Kabupaten Sejuta LopoEksotika Geowisata Kabupaten Sejuta Lopo: Dari Mitologi ke Geologi”, karya Dr. Herry Zadrak Kotta, yang berlangsung di Aula Kantor Bupati Timor Tengah Utara (TTU), kamis (22/1/2026).

Buku tersebut mengulas kekayaan geowisata Kabupaten TTU dengan pendekatan multidisipliner, menggabungkan narasi mitologi lokal, sejarah, budaya, hingga kajian geologi sebagai fondasi pengembangan pariwisata daerah yang berkelanjutan dan bernilai ekonomi.

Kegiatan ini dihadiri oleh unsur pimpinan daerah, akademisi, tokoh agama, tokoh adat, serta pemerhati pariwisata dan kebudayaan.

Diskusi berlangsung dinamis, membahas peluang dan tantangan pengelolaan potensi wisata alam dan budaya di Kabupaten Sejuta Lopo.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati TTU, Kamilus Elu, menyampaikan apresiasi kepada Dr. Herry Zadrak Kotta atas kontribusi pemikiran dan dedikasinya dalam mendokumentasikan potensi geowisata TTU melalui karya tulis ilmiah-populer.

“Buku ini sangat penting bagi daerah, bukan hanya sebagai dokumentasi potensi wisata, tetapi juga sebagai bagian dari sejarah dan perencanaan masa depan pembangunan pariwisata TTU,” ungkap Wakil Bupati.

Ia menegaskan bahwa Kabupaten Timor Tengah Utara memiliki kekayaan wisata alam yang melimpah, mulai dari bentang alam, situs geologi, rumah adat, hingga nilai-nilai budaya dan sejarah. Namun, potensi tersebut selama ini belum dikelola secara optimal akibat keterbatasan sumber daya, pengelolaan, dan perencanaan yang terarah.

Kamilus menekankan bahwa pariwisata harus dipandang sebagai sebuah bisnis, yang memerlukan manajemen profesional agar mampu memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat sekitar.

“Alam sudah menyediakan keindahan dan daya tarik eksotis. Tantangannya adalah bagaimana kita mengelola, mengemas, dan mengoptimalkan potensi itu agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Dalam diskusi, Pater Petrus Salu, SVD, menyampaikan reflektif yang menilai buku ini sebagai karya yang menyentuh kebutuhan paling mendasar manusia, khususnya masyarakat TTU, dalam memahami relasi antara manusia, alam, dan makna kehidupan.

Menurut Pater, presentasi peluncuran buku yang disampaikan langsung oleh penulis sangat bernas dan menggugah, karena membuka ruang dialog antara warisan kearifan lokal dan sains modern.

Ia mencatat tujuh benang merah gagasan utama buku tersebut, termasuk pentingnya mitologi dan geologi dalam memahami kekayaan alam TTU, serta potensi geowisata sebagai peralihan cara membaca alam dari kisah-kisah sakral menuju pengetahuan ilmiah.

Pater Petrus Salu menilai buku karya penulis sebagai karya strategis dan langka karena berhasil menjembatani “kekayaan diam” berupa batu, gunung, dan lanskap alam menjadi “kekayaan ekonomi kreatif”.

Pater Petrus Salu juga mengajukan empat pertanyaan reflektif dan kritis kepada penulis dan Pemerintah Kabupaten TTU, termasuk mengenai peralihan dari mitologi ke geologi, integrasi kurikulum dan literasi, serta sinkronisasi infrastruktur dan narasi budaya.

Ia berharap, peluncuran buku ini menjadi titik awal dialog berkelanjutan antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam merumuskan arah pembangunan geowisata TTU yang berkelanjutan, berkeadilan budaya, dan berakar kuat pada kearifan lokal.

Dr. Herry kepada Media menegaskan bahwa masa depan Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk Timor Tengah Utara, memiliki peluang besar jika dikembangkan melalui dua sektor utama, yakni pariwisata serta pertanian dan peternakan.

“Kalau kita bicara masa depan NTT, sebenarnya ada dua pintu masuk utama, yaitu wisata dan pertanian-peternakan. Pariwisata itu bisa menjadi pengungkit semua sektor,” jelasnya.

Ia mengambil contoh kondisi di Manggarai Barat, di mana perkembangan pariwisata yang pesat belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan sektor pertanian dan peternakan lokal.

“Kita lihat di Manggarai Barat, pariwisatanya maju, tetapi pertanian dan peternakannya kewalahan. Akibatnya, banyak kebutuhan pangan justru didatangkan dari luar daerah. Ini harus menjadi pelajaran bagi TTU dan wilayah lain di NTT,” tegasnya.

Acara ini ditutup dengan harapan bahwa buku “Eksotika Geowisata Kabupaten Sejuta Lopo: Dari Mitologi ke Geologi” dapat menjadi referensi strategis bagi pemerintah daerah dan DPRD dalam menyusun kebijakan serta regulasi pariwisata ke depan, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan nilai budaya dan sejarah lokal juga menjadi inspirasi bagi generasi muda TTU untuk lebih memahami dan menghargai kekayaan alam dan budaya daerah.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *